Mata Berita

Wanita Cantik Ini Melajang Seumur Hidup, Setelah Kekasihnya Tewas di Titanic

Wanita Cantik Ini Melajang Seumur Hidup, Setelah Kekasihnya Tewas di Titanic  Tenggelamnya RMS Titanic merupakan sebuah tragedi yang sangat tragis. Apalagi, kapal tersebut sebagai kapal termegah pada zamannya dan pada waktu itu dikatakan kapal tersebut ‘tidak bisa tenggelam’. Namun, takdir berkata lain, kapal megah itu pun harus karam pada pelayaran perdananya, setelah menabrak gunung es raksasa di Samudera Atlantik, pada dini hari 15 April 1912. Lebih dari 1.500 orang meninggal pada malam itu, dan sekitar 2.200 penumpang beserta awak kapal terpaksa lompat ke laut yang dingin untuk menyelamatkan diri.

Wanita Cantik Ini Melajang Seumur Hidup, Setelah Kekasihnya Tewas di Titanic

Wanita Cantik Ini Melajang Seumur Hidup, Setelah Kekasihnya Tewas di Titanic
Wanita Cantik Ini Melajang Seumur Hidup, Setelah Kekasihnya Tewas di Titanic

Sudah lebih dari satu abad, kisah tragis kapal RMS Titanic mengisi halaman depan surat kabar di seluruh penjuru dunia. Dan hingga kini, kisah tragis seputar kapal megah itu terus menjadi bahan pembicaraan oleh sejumlah kalangan, juga sebagai contoh tentang ‘peringatan atas kesombongan manusia’.

Salah satu kisah yang sangat menggugah hati tentang tenggelamnya Titanic adalah pengalaman pribadi dari orang-orang yang selamat dari peristiwa naas itu. Salah satunya adalah pengalaman dari seorang perempuan yang bernamanya Berthe Antonine Mayne.

Dia lahir di Ixelles, Brussels, pada tahun 1887, Mayne meniti karier sebagai penyanyi kabaret yang terkenal. Seperti yang dikutip dari The Vintage News sebuah surat kabar Belgia bernama ‘Het Laatste Nieuws’ sempat menceritakan kiprah cemerlangnya di dunia tarik suara, hingga terkenal di kalangan borjuis Belgia. Pada 1911, Mayne bertemu seorang pemuda pemain hoki es, pemuda tersebut kelahiran Montreal, Kanada, bernama Quigg Edmond Baxter. Dalam waktu beberapa bulan mereka pun menjadi sepasang kekasih.

Baxter yanga dulunya adalah peselancar hoki es yang telah terkenal. Ditengah tengah karier cemerlangnya itu, tiba tiba harus kandas setelah mengalami cedera akibat pukulan stik hoki yang menyasar ke matanya pada sebuah pertandingan. Setelah pensiun dini dunia hoki es, pemuda asal Montreal itu pergi jalan jalan ke Eropa bersama ibu dan adik perempuannya.

Ketika masih di Eropa, Baxter bertemu dengan Mayne yang sedang menjadi penari di sebuah kafe di Brussels. Lalu Baxter jatuh hati dengan karismanya Mayne. Baxter pun  bersikeras mengajak Mayne untuk pulang bersama ke Montreal Kanada agar dapat meminangnya. Mereka pun membeli tiket pulang kelas satu menggunakan RMS Titanic. Berlayar menaiki Titanic dari Cherbourg Prancis, setelah dari titik tolak keberangkatan awal sang kapal megah di Southampton Inggris.

Bagi Mayne, berlayar bersama orang yang dicintai dengan Titanic merupakan sebuah pengalaman sangat indah yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Kebahagiaan itu juga turut dirasakan oleh Baxter yang tak sabar membangun rumah tangga bersama sang diva Brussels.

Namun takdir berkata lain, kebahagiaan Mayne, Baxter, beserta ribuan penumpang Titanic lain tak berlangsung lama. Pada malam 15 April 1912, saat Titanic yang tengah berlayar di Samudera Atlantik, dan Baxter yang tengah tidur pulas di ruang tidurnya dibangunkan oleh sang Ibunda yang penasaran mengapa kapal berhenti tiba-tiba di tengah perjalanan.

Baxter yang dibangunkan oleh sang ibu pun itu bangun dan berjalan keluar dari kamarnya untuk mencari tahu situasi yang tengah terjadi. Mantan atlet hoki es itu melihat kapten kapal Edward Smith sedang berbicara dengan pejabat maskapai White Star, perusahaan pengelola Titanic yang bernama Bruce Ismay, salah satu pria yang juga menjadi penyintas.

Melihat Baxter yang kebingungan, Kapten Smith pun berkata, “Ada kecelakaan Baxter, tapi semuanya tidak apa-apa”.

Setelah Smith beranjak pergi, Ismay mengimbau kepada Baxter agar segera membawa keluarganya menuju sekoci penyelamat. Mendengar imbauan tersebut, Baxter, ibu dan adik perempuannya, serta Mayne langsung beranjak ke sekoci yang tersedia saat itu, yakni sekoci nomor 6. Namun sayang, karena hanya perempuan dan anak-anak yang diprioritaskan untuk naik ke sekoci, Baxter pun tidak dapat ikut. Melihat pria yang dicintainya tak dapat ikut, Mayne menolak untuk naik ke atas sekoci. Akhir nya sang diva Brussels itu naik ke atas sekoci setelah  berhasil diyakinkan untuk naik ke atas sekoci tersebut, tanpa Baxter di sisinya.

Setelah orang-orang terkasihnya mulai pergi menggunakan sekoci nomor 6, Baxter pun melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal. Sisanya tinggal kenangan, sang atlet hoki es itu ikut tenggelam bersama RMS Titanic dan jasadnya tak berhasil diselamatkan. Setelah peristiwa itu, Mayne sempat tinggal bersama keluarga Baxter di Montreal selama beberapa bulan. Merasa hampa tanpa kehadiran Quigg Baxter pria yang dicintainya, Mayne memutuskan untuk menata hidup baru, ia pun kembali ke Eropa untuk tinggal di Paris, dan melanjutkan kariernya di dunia tarik suara.

Dan sejak itu, tidak pernah ada laki-laki lain yang mampu mengisi relung hati sang diva, selain Quigg Baxter. Mayne pun memutuskan untuk tidak menikah, hingga di penghujung hayatnya pada 1962, pada usia 75 tahun.