oleh

Potensi Kesehatan Mental Terganggu Pada Masa Physical Distancing

MATA BERITA – Selama pandemi Virus Corona COVID-19, pemerintah membuat peraturan baru yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia untuk melakukan physical distancing.

Physical distancing merupakan menjaga jarak dengan aman dan disiplin untuk pencegahan Virus Corona namun masih tetap terhubung dalam komunikasi dan sosialnya. WHO atau World Health Organization menghimbau bahwasannya masyarakat dapat menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit tidak menyebar.

Adanya physical distancing yang telah diterapkan masyarakat Indonesia memberikan beberapa efek samping. Efek samping tersebut adalah kesehatan mental seseorang dapat terganggu karena adanya batasan untuk keluar rumah.

Kesehatan mental akibat Physical distancing dapat terjadi pada lansia, orang dewasa, remaja, serta anak-anak karena merasa bosan berada di rumah dan tidak dapat bepergian seperti biasanya.

Kesehatan mental yang ditunjukkan dari anak-anak akibat physical distancing tentu anak akan menunjukkan sikap rewel, malas belajar karena tugas sekolah semakin menumpuk, sering merajuk, dan perasaan gembira berkurang.

Baca Juga : Hindari Kanker Kulit Dengan Berjemur di Waktu yang Tepat

Hal ini dapat diatasi oleh Orang Tua dengan beberapa pesan yang telah disampaikan oleh kak Seto saat live streaming Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Sabtu (4/4/2020).

“kuncinya harus sabar dan kreatif. Jangan sampai saat mereka belajar di dalam keluarga, anak menjadi stres karena sikap orang tua yang tidak sabar,” terang Psikolog Anak Dr. Seto Mulyadi S.Psi, M.Si.

Saat physical distancing upaya orang tua dalam mendidik anak perlu memperketat aturan dengan perasaan dan edukasi yang menyenangkan. Dalam mendidik anak orang tua harus menerapkan program gembira.

Program GEMBIRA tersebut yakni (G)erak, (E)mosi yang cerdas, (M)engonsumsi makanan yang sehat, (B)eribadah, (I)stirahat cukup, (R)ukun ramah, (A)ktif berkarya. Orang tua harus terus mendampingi anak dan memanfaatkan waktu untuk melatih anak lebih mandiri.

Masa-masa physical distancing, orang dewasa, lansia, dan remaja juga dapat berpotensi kesehatan mentalnya terganggu. Seperti mudah marah, cepat lelah, merasa kekurangan hiburan, timbul perasaan takut terhadap suatu wabah, merasa kesepian, cemas, depresi, sistem kekebalan tubuh melemah, dll.

Pada masa physical distancing masyarakat harus paham akan risiko yang dialaminya nanti, sehingga masyarakat harus memiliki perasaan bahagia dan terus selalu mencari aktifitas atau kegiatan agar tubuh selalu bergerak dan menjadi kebiasaan di masa physical distancing.

Memanfaatkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga seperti menonton film dan membersihkan rumah serta melakukan perbincangan hangat dapat mengurangi risiko kesehatan mental terganggu.

Kegiatan yang tidak dapat dilakukan pada sebelum masa physical distancing, seperti berkebun, menanam tanaman atau bunga, memasak resep atau menu baru yang dapat diperoleh dari You Tube, membaca buku, dan bermain game bersama keluarga termasuk bersama anak dapat dengan mudah dilakukan saat masa ini.

Baca Juga : Inilah Kegiatan Yang Cocok #DiRumahAja Dalam Memberantas Kejenuhan

Untuk menjaga kesehatan mental, perlu dilakukan kesehatan fisik seperti menjaga pola hidup bersih dan sehat serta berolahraga. Ketika kesehatan tubuh dan kesehatan mental terjaga pada tubuh seseorang, maka pikiran positif akan menyertai dalam hidup dan terhindar dari berbagai penyakit.

Komentar

Leave a Reply

News Feed